Ajining diri gumantong ono ing lathiâ, Yang artinya bahwa harga diri seseorang dapat dilihat dari cara dia berbicara. Peribahasa di atas adalah salah satu di antara banyak peribahasa yang sangat kental di masyarakat Jawa dan di jaga baik oleh mereka. Kelebihan peribahasa Jawa yang utama adalah bahwa perbahasa Jawa mengandung nilai-nilai
Jawa Renungan; Tips Trik; Kejawen Thursday, March 24, 2011 Ajining diri soko lathi ---> ini diartikan bahwa "setiap orang itu dihargai dan dihormati karena lidahnya" dalam artian bisa menjaga tutur kata dengan senantiasa berbicara benar, dapat dipercaya dan tidak berlebihan. Sungguh esensi yang terkandung sangat lah dalam. Tentu saja
WULANGAN4 NGUDI KAWRUH BECIK Kompetensi Dasar dan Indikator 3.5 Mengidentifikasi, memahami, dan menganalisis teks berAksara Jawa sesuai kaidah. 3.5.1 Menandai tata tulis Aksara Jawa dalam wacana 3.5.2 Mengelompokkan tata tulis Aksara Jawa sesuai dengan fungsinya 4.5 Menyusun paragraf menggunakan Aksara Jawa sesuai kaidah 4.5.1 Menulis
Malang Jawa Timur, Indonesia 131 koneksi. Gabung untuk terhubung Kafaa Project. Situs Web Pribadi. Laporkan profil ini ajining diri soko ing lathi Jawa Timur, Indonesia. Galih Rengga Gurita Corporate Risk Measurement Analyst at Mandiri Tunas Finance Jakarta Pusat. Ari
Menurutpara ahli : Darusuprapta (2002:5) aksara pokok mempunyai aksara, yang berfungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup konsonan dengan suku kata berikutnya, kecuali suku kata yang tertutup wignyan, layar, dan cecak. aksara pokok. Berikut ini adalah aksara Jawa pokok atau aksara Nglegena beserta pasangannya:
WilujengRawuh wonten Blog Jiwa Jawi dening Oki Bagus S lan Ernis Rositarini
59K views, 86 likes, 4 loves, 1 comments, 133 shares, Facebook Watch Videos from Serdadu_jawa: Ajining Diri Soko Lathi.. Ajining Rogo Soko
Kegiatansehari-harinya terkesan nganggur di rumah, padahal siapa sangka, Ninik Pratiwi SH, diam-diam tengah menempuh pendidikan S2 di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menurutnya, ibu rumah tangga harus berpendidikan.
KC49z. Ajining Diri Soko Lathi, Ajining Rogo soko Busono Di postingan kali ini gue bakal menulis tentang salah satu pepatah Jawa yang sangat bagus untuk dipelajari. Bagi kalian yang orang Jawa pasti sudah tahu pepatah ini kan?? bagus lagi kalau kalian dapat memahami arti pepatah Jawa diatas. Bagi kalian yang belum paham dengan makna pepatah tersebut, gue bakal menjelaskannya. Pepatah ajining diri soko lathi terjemahannya adalah harga diri seseorang ditentukan oleh tutur katanya Lathi=lidah. Kebanyakan orang menilai orang lain lewat perkataan yang dikeluarkan dari mulutnya. Anggapan bahwa lidah lebih tajam daripada pedang bisa dibilang benar. Karena lidah dapat menyakiti seseorang lebih kejam daripada pedang. Kembali ke topik tutur kata, jika kita sering berkata kasar maka orang lain akan mengenal kita sebagai pribadi yang kasar. Jika tutur kata kita halus, baik, dan sopan maka orang lain akan menilai kita sebagai pribadi yang santun dan ramah. Pepatah ajining diri soko lathi mengajarkan kita untuk selalu menjaga setiap tutur kata kita. Jadi betapa besar dan pentingnya pengaruh ucapan kita terhadap kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dan pepatah ajining rogo soko busono memiliki arti penampilan seseorang ditentukan dari cara berpakaiannya. Penampilan dapat menunjukan karakter kita di mata orang lain. Jika kita melihat ada orang yang berpenampilan rapi maka kita beranggapan bahwa orang itu mencintai kebersihan dan kerapian, dan sebaliknya saat kita melihat ada orang yang berpakaian kusut dan berpenampilan kotor kita akan menilainya sebagai karakter yang kotor, malas, dan jorok. Pakaian juga dapat menunjukkan status sosial kita di masyarakat, dan bahkan secara tidak sadar pakaian di masyarakat dapat menimbulkan persepsi seseorang terhadap kita. Contoh seseorang berpakaian compang-camping = pengemis, seseorang berpakaian kemeja rapi, berdasi, dan berjas = orang kerja. Pepatah ini mengajarkan kita bahwa kita harus memperhatikan cara berpakaian kita di masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa pepatah ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono memberi pelajaran bagi kita untuk dapat menilai diri sendiri dn orang lain dengan memperhatikan setiap detail yang ada. Dan agar kita dapat diterima di masyarakat sebagai pribadi yang baik itu memang tidak mudah. Karena sering kali sesuatu yang kita anggap benar bisa saja salah di mata orang lain, dan yang orang lain anggap benar bisa saja kita beranggapan itu salah. Namun semua itu tergantung dari pribadi masing-masing. Kalian juga dapat memakai pepatah ini untuk pedoman kalian di masyarakat..... ^^ ^^
Salah satu falsafah Jawa yang masih dijadikan patokan masyarakat Jawa yaitu âAjining Diri Soko Lathi Ajining Rogo Soko Busonoâ. Tentunya pernah mendengar ungkapan falsafah ini kan? Terutama sahabat rahmania yang orang Jawa pasti tidak asing di telinga dengan kalimat ini. Dalam bahasa Indonesia falsafah ini mempunyai arti bahwasanya harga diri seseorang tergantung pada lidahnya dan harga diri badan dari pakaian. Falsafah ajining diri soko lathi berarti harga diri bisa sifat, kelakuan seseorang bisa dilihat dari bagaimana orang tersebut berbicara. Seringkali orang mendapat malapetaka karena tidak bisa menjaga bicaranya, misal bicara ângawurâ dan âsembronoâ. Tetapi tak jarang juga kita mendapati keselamatan atau kemudahan karena menjaga lidah. Contohnya saja begini, ketika ada orang yang sering berbicara kasar, tidak sopan, maka orang lain dengan sendirinya akan menganggap diri anda cenderung negatif. Sebaliknya jika lidah anda dijaga dengan berbicara yang sopan, tentu orang lain akan melihat anda sebagai orang yang mempunyai citra positif. Unggah-Ungguh Bermedia Sosial Ketika dalam kehidupan bermasyarakat, lidah akan sangat mempunyai pengaruh. Ada cekcok antar tetangga, gosip sana sini, mengumpat, fitnah, bahkan bisa sampai senggol bacok. Antar teman saja bisa saling berantem lho, padahal hanya berawal dari guyonan saja. Banyak banget hal seperti itu terjadi. Akhirnya ada yang merasa sakit hati dan tersinggung. Apalagi di zaman serba canggih ini, ketajaman lidah tidak hanya kita temukan lagi cekcok orang berhadapan langsung, tetapi dalam media sosial. Saling sindir dan fitnah sekarang ini dikemas lebih modern, bahkan bisa dengan mudahnya seluruh manusia tahu dan menyaksikannya. Sampai-sampai diilustrasikan melalui beberapa film pendek yang menggambarkan keadaan di atas, contohnya film pendek yang akhir-akhir ini sedang viral yaitu film âTilikâ. Tentunya dalam bermedia sosialpun juga harus memperhatikan unggah-ungguh ya sahabat rahmania. Bermedia sosial dengan bijak menjadikan falsafah ajining diri soko lathi dalam masyarakat Jawa sangat menjadi tolak ukur dalam menilai harga diri seseorang. Sopan santun, unggah-ungguh adalah suatu hal yang harus diterapkan baik kaum muda maupun tua. Maka berpikirlah sebelum berucap. Kita pernah merasakan luka karena tajamnya mata pisau, selang beberapa hari luka akan menutup dan sembuh. Tapi luka karena tajamnya lidah, maka akan membekas pada perasaan orang tersebut, dan sembuhnya tidaklah sebentar. Penampilanmu Cerminan Harga Dirimu Ajining rogo soko busono, bahwasanya penampilan kita juga mencerminkan harga diri kita. Coba perhatikan sekitar kita, tentunya pernah tidak melihat seseorang yang memakai baju kumal alias tidak disetrika? Pasti gumam dalam hati adalah idih ngurus pakaiannya sendiri aja malas, gak tertib banget sih. Pokoknya gak enak banget dipandang. Sejatinya pakaian yang menempel di tubuh kita mewakili harga diri kita, meskipun tidak sepenuhnya. Jika memakai pakaian dengan rapi, tertib, wangi tentu akan menciptakan kesan yang postif. Begitupun sebaliknya. Karena orang lain atau orang yang baru saling mengenal pasti akan menggambarkan kepribadian seseorang sesuai dengan apa yang melekat padanya. Sebenarnya untuk terlihat cantik dan menawan, utamanya kita menjaga dua hal tersebut sangat cukup yaitu tutur kata yang baik dan sopan, serta berpenampilan yang rapih dan tertib. Sederhana saja, tidak perlu sepatu, baju, dan tas dengan harga yang melambung tinggi jika ujung-ujungnya ketika berbicara hanya akan menyakiti orang lain. Tetap saja orang lain tidak akan suka. Benar tidak? Tentunya kita lebih nyaman bersanding dengan orang yang dapat menjaga perkataanya. Jika kita bisa menjaga dua poin penting di atas maka tidak perlu meminta untuk dihargai orang lain, mereka dengan sendirinya akan menghargai kita. Dalam dunia falsafah ini, orang dihargai karena pakaiannya sangat mungkin benar walaupun belum tentu benar juga. Seseorang yang berpakaian rapi dan jas berdasi akan disangka orang terhormat, walau kadang bisa saja seorang penipu atau koruptor. Penampilan memang menunjukan kepribadian tapi tidak selamannya sesuai dengan kepribadiannya yang sebenarnya juga. Tidak perlu berlebihan aja dalam menilai seseorang, karena penilaian kita juga belum tentu tepat dan jangan sampai ujungnya akan berakhir menjadi ajang pergunjingan. Kuncinya Adalah Iman Islam sebagai agama yang memberikan rahmat bagi seluruh alam menggambarkan sempurnanya iman bisa di lihat berdasarkan ketaqwaannya. Allah menilai seseorang dari ketaqwanya. Dalam Al-Qurâan Allah berfirman inna aqromakum indallahi atqokum. Sesungguhnya yang lebih mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa. Bukan hanya dari falsafah Jawa ini saja, Islam pun juga menganjurkan untuk seluruh umatnya senantiasa menjaga perkataanya dan berpakaian yang indah. Jika tidak bisa berkata baik, Islam menganjurkan lebih baik diam saja daripada ujung-ujungnya bikin sakit hati orang lain. Selain itu Islam juga menganjurkan untuk hidup rukun dan saling menghormati tidak saling berperang, meggunjing, dan juga saling memfitnah. Allah itu indah dan menyukai keindahan, maka dengan itu Islam menganjurkan untuk memperindah diri kita supaya Allah semakin mencintai hambanya. Indah tidak hanya pada penampilan, tetapi dimulai dari sucinya pikiran, murninya perkataan, tulusnya hati serta baiknya perbuatan. Pada akhirnya akan menyatu dalam bingkai indahnya iman. Editor Laeli Lahir di Kulon Progo pada 27 November 1998, motto hidupnya adalah Inna maâal usri yusro wa inna maâal usri yusro.
Becik Ketitik Ala Ketara, Petuah tersebut artinya; âbaik terbukti, buruk kelihatan sendiri.âArti atau makna petuah "Becik Ketitik Ala Ketara" adalah anjuran kepada siapa pun untuk tidak takut berbuat atau mengatakan kebaikan. Setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil dan sesederhana apa pun kebaikan itu, suatu hari nanti pasti akan terlihat manfaatnya. Dan, para pelakunya pasti akan selalu dihargai sekecil apa pun keburukan yang kita lakukan, suatu saat nanti akan terlihat juga akibatnya. Petuah ini sejalan dengan kata pepatah, âsepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium jugaâ.Pengertian lain dari petuah Jawa tersebut yaitu, semua perbuatan, entah perbuatan baik maupun buruk, akan senantiasa memperoleh balasan yang setimpal. Oleh karena itu, melalui petuah ini, kita diingatkan agar tidak menyesali kebaikan yang sudah kita lakukan kepada orang lain. Awalnya, mungkin tidak terlihat manfaatnya. Namun, suatu ketika kebaikan itu akan terasa pengaruhnya, bisa kita sendiri atau anak cucu yang merasakan nantinya. Selain itu, jangan merasa aman dengan keburukan atau kejahatan yang kita lakukan. Sekecil apa pun kejahatan yang kita lakukan pada orang lain, suatu saat pasti akan menanggung ini kalimat petuah "Becik Ketitik Ala Ketara" yen ditulis nganggo aksara Jawa;ę§ęŚ§ęŚźęŚęŚśęŚę§ ęŚęŚźęŚ ęŚśęŚ ęŚśęŚę§ę§ ęŚ˛ęŚ ęŚęŚźęŚ ęŚŤę§Jika kalimat petuah "Becik Ketitik Ala Ketara" dijabarkan penulisannya dalam aksara jawa antara lain sebagai berikut;ꌧꌟęŚęŚśęŚę§ ==> becikęŚęŚźęŚ ęŚśęŚ ęŚśęŚę§ ==> ketitikęŚ˛ęŚ ==> alaęŚęŚźęŚ ęŚŤ ==> ketaraBaca jugaDemikian rangkuman "Becik Ketitik Ala Ketara, Aksara Jawa dan artinya dalam Bahasa Jawa" yang dapat kami sampaikan. Baca juga makna dan arti kata bijak Jawa menarik lainnya hanya di situs