14 Ngadu Muncang. Ngadu Muncang is one of the traditional Indonesian games that became more rarely played these days. This game is usually played by kids who live in rural area. M. uncang is the nut of rubber plant. Since rubber plants only bear fruit in certain season, this game is also seasonal as well. This game can be played by two players Adukesaktian. Ngadu muncang memang salah satu permainan tradisional dari Indonesia, biasanya dimainkan oleh anak laki-laki pada musim kemiri. Namun bila membaca sejarah, adu muncang bukan hanya permainan di kala senggang. Dimuat dari koropak, pada masa Kerajaan Sunda, ngadu muncang dijadikan sebagai alat menunjukan kesaktian. Permainantradisional ialah sesuatu permainan yang dimainkan oleh masyarakat pada zaman dahulu yang di tuturkan atau diwariskan secara turun temurun dengan tujuan hiburan atau menyenangkan hati. Permainan tradisional indonesia sangat beragama dan mempunyai karakteristik tersendiri. namun seiring dengan perkembangan zaman, permainan tradisional PermainanTradisional Ngadu Muncang. @tintapendidikanindonesia.com. Ngadu Muncang adalah salah satu permainan tradisional dari Sunda yang semakin jarang dimainkan akhir-akhir ini. Game ini biasanya dimainkan oleh anak-anak yang tinggal di daerah pedesaan. Ngadu Muncang adalah tanaman karet. Karena tanaman karet hanya berbuah pada musim tertentu cmgDJM. Permainan Tradisional Ngadu Muncang di Indonesia Ngadu muncang adalah permainan tradisional Indonesia. Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak laki-laki, dahulu permainan ini menjadi favorit dan jika kamu pernah memainkannya kamu akan merasa senang jika menang. Sejarah Permainan Banyak permainan tradisional yang kehilangan jejak dan catatan sejarahnya, salah satunya adalah permainan ngadu muncang. Ngadu Muncang menjadi permainan yang disukai dan dimainkan hanya pada musimnya saja. Tapi ada sedikit titik terang tentang sejarah ngadu musang ini, dahulu pada masa kerajaan sunda, ngadu muncang dijadikan alat untuk menunjukan kesaktian. Dapat disimpulkan bahwa permainan ini sudah ada sejak zaman kerajaan dahulu kala. Peraturan dan Cara Bermain Dibutuhkan 2 biji muncang untuk diadu. Letakan satu biji di bawah dan satunya di atas, lalu pukul dari bagian atas untuk memastikan siapa yang pecah. Jika biji muncang yang di bawah tidak pecah, maka gantian yang tadi di bawah menjadi di atas. Pemenang adalah yang memiliki biji muncang yang kuat dan tidak pecah jika diadu. Permainan Anak-anak Arus globalisasi memang sedang hebat-hebatnya menggerus kebudayaan Indonesia, termasuk budaya permainan tradisional anak bangsa. Tapi siapa sangka di balik cepatnya arus globalisasi tersebut, permainan tradisional masih mendapatkan ruhnya di hati anak-anak desa. Seperti yang terjadi di desa Cisompet, daerah selatan Garut, anak-anak sedang ramai-ramainya menikmati permainan Ngadu Muncang yang saat ini sedang menjadi musimnya di kalangan anak-anak desa. Anak-anak desa Cisompet memang perlu dijadikan contoh dalam mencintai permainan tradisional. Meskipun permainan modern dengan teknologi yang semakin canggih menyebar di seluruh dunia –termasuk Indonesia, tapi anak-anak desa masih menaruh perhatiannya pada permainan tradisional Ngadu Muncang. Sekilas memang permainan Ngadu Muncang ini kalah canggih dibandingkan dengan permainan modern sekelas Tendo, Game Online, Play Station, dan lain-lain. Akan tetapi kalau kita cermati lebih mendalam, permainan tradisional ini memiliki manfaat yang lebih berguna dibandingkan permainan modern, seperti ketelitian, kerjasama, kekuatan, dan kekreatifan. Empat manfaat tersebut bisa kita ketahui dari cara memainkan permainan Ngadu Muncang tersebut. Dalam bermain Ngadu Muncang, pertama-tama seorang anak biasanya menyiapkan muncang Indonesia Kemiri andalannya yang telah direndam selama seperempat/setengah jam di dalam air cuka. Perendaman di dalam air cuka tersebut berguna untuk menambah kekuatan kulit muncang. Setelah muncang andalan siap untuk ditandingkan dengan muncang teman sepermainan, salah seorang wasit muncang memberi aba-aba supaya kedua muncang tersebut siap untuk ditandingkan. Kedua muncang tersebut biasanya diletakan secara vertikal-bertumpuk di atas sebilah bambu yang telah dipotong mendatar. Kedua bambu mendatar tersebut diletakan di sisi bawah dan atas kedua tumpukan muncang tersebut yang di sisi paling bawahnya diberi alas sandal jepit. Setelah semua perlengkapan selesai dipersiapkan, maka seorang wasit muncang memberi aba-aba dari satu sampai tiga. Pada hitungan ketiga tersebut, wasit kemudian memukul tumpukan muncang dengan kayu yang agak besar. Di akhir permainan, anak-anak bisa melihat muncang mana yang masih bertahan dan muncang mana yang telah remuk. Di sini, anak-anak bisa mengetahui pihak mana yang lebih unggul. Namun demikian, terkadang permainan tradisional Ngadu Muncang ini disalahgunakan oleh sebagian pihak. Permainan Ngadu Muncang yang pada awalnya memiliki nilai manfaat bagi anak-anak disalahgunakan oleh sebagian pihak yang ingin meraih keuntungan dengan menjadikannya taruhan, atau bahkan judi. Taruhan Ngadu Muncang pada umumnya disalahgunakan oleh para orang tua dan pemuda iseng. Mereka menggunakan media Ngadu Muncang supaya permainan bertambah mengasyikan. Akibatnya, penyalahgunaan permaianan tradisional ini menjadi salah satu target polisi dengan dugaan perjudian. Penyalagunaan permainan tradisional ini memang bukan kesalahan anak-anak desa atau pihak yang menghadirkan permainan Ngadu Muncang ke tengah dunia anak-anak. Pihak-pihak yang tidak bertanggung jawablah yang harus disalahkan dengan penyalagunaan permainan tradisional ini. Kehadiran mereka di tengah masyarakat akan merusak citra permainan tradisional yang saat ini sedang giat bersaing dengan permainan modern. Muncang yang bisa digunakan dalam permainan adu muncang Ngadu muncang atau adu muncang adalah permainan tradisional Sunda. Muncang adalah kemiri dalam bahasa Sunda. Permainan ini tidak hanya disukai oleh anak-anak, orang dewasa pun banyak yang gemar bermain adu muncang. Bahkan pada zaman dahulu, permainan ini dimainkan oleh raja.[1] Muncang yang digunakan biasanya muncang yang memang untuk aduan dan berwarna kehitaman. Alat yang digunakan dalam permainan ini tergolong mudah didapat. Hanya sebatang bambu yang dibelah sebagai alat penjepitnya dan benda keras seperti batu untuk memukul. Tentu alat yang paling utama adalah muncang itu sendiri. Biasanya seorang pemain memiliki lebih dari 1 muncang yang dijadikan jagoan dalam bermain. Cara bermain[sunting] 1. Kedua pemain menyiapkan muncangnya masing-masing. 2. Pemain melakukan suten untuk menentukan posisi muncang. Pemenang suten berhak memilih apakah muncangnya mau berada diatas atau dibawah. 3. Setelah pemenang menentukan posisi muncangnya, pemain yang kalah meletakkan muncangnya. Posisi muncang disusun secara vertikal, kemudian dijepit dari atas menggunakan bambu yang sudah dibelah.[2] 4. Setelah kedua muncang tetap pada posisinya, salah satu pemain atau pengadil memukulkan batu tepat kebambu yang dibawahnya terdapat muncang. Muncang yang masih utuh saat dipukullah yang menjadi pemenangnya. Sedangkan muncang yang hancur dinyatakan kalah. Jika pada pukulan pertama kedua muncang sama-sama kuat, maka muncang akan dipukul terus sampai salah satunya hancur. Referensi[sunting] ↑ Amiruddin, F. 2023. Sejarah Adu Muncang Kegemaran Raja hingga Sanksi Penggal Leher Kuda. detikjabar Diakses pada 29 April 2023, dari ↑ Pratama, B. E. 2023. 7 Permainan Tradisional Khas Jawa Barat, Kalian Pernah Coba?. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Diakses pada 29 April 2023, dari